Dari Sejarah Turun Ke Kobam

Standard

 Berangkat dari cinta akan sejarah, Kobam menuai sukses di kalangannya.

Oleh: Josephine Inggri

kobam

Distrik Online, Depok – Hiruk pikuk Jakarta sudah sering dirasakan, namun hiruk pikuk semangat penikmat sejarah tentu jarang dirasakan. Khususnya di daerah Depok terletak di Jalan Pala No 4 Beji Timur terdapat sebuah komunitas bernama Komunitas Bambu. Didirikan oleh sejumlah mahasiswa dari lingkungan fakultas sastra UI Depok yang memilih jalan kebudayaan. Komunitas ini berdiri sejak 20 Mei 1998.

“Ambil tanggal 20 Mei 1908, mereka mendirikan komunitas ini untuk diambil semangatnya.” ujar Nana salah satu staf Komunitas Bambu. Komunitas Bambu bukan sembarang komunitas. Kobam biasa orang mengenal komunitas ini fokus pada hal mengenai sejarah bangsa. Salah satu pendiri komunitas ini ialah JJ Rizal, sejarawan yang terlibat sebagai intelektual publik dengan aktif menyikapi persoalan-persoalan di tengah masyarakat melalui tulisan-tulisan di berbagai media cetak dan narasumber untuk beberapa stasiun radio dan TV. Lebih dari sepuluh tahun, Kobam menggali caranya untuk menerbitkan buku-buku bertema Ilmu Pengetahuan Budaya dan Humaniora.

Berbicara mengenai makna Komunitas Bambu, ada terdapat tiga sudut yang dapat menjelaskan arti dari nama tersebut. Pertama dilihat dari sudut historis, Kobam berdiri dan berdomisili di Depok sebab berasal dari lingkungan mahasiswa fakultas sastra UI, Depok. Apabila melihat sejarah kota Depok merupakan suatu kawasan konservatorium bambu. “Sampai tahun 1980an warga Depok masih menjadi pemasok bambu ke Jakarta,” ujar Nana menjelaskan. Berbeda dengan sekarang, bambu-bambu tinggal sisanya saja dan sedikit jenis serta rimbunan pohonnya masih bertahan di sekitar Depok Lama.

Kedua, dilihat dari sudut filosofis, pohon bambu ialah simbol hidup  yang bermanfaat dikarenakan terdapat bagian-bagian yang berguna untuk banyak orang. Pohon bambu sebagai simbol kolektivisme atau kebersamaan sebab tumbuh dengan cara berumpun. Menurut Nana, bambu dilihat dari bentuknya merupakan batang menjulang yang lentur sehingga mengikuti arus angin untuk beradaptasi dengan situasi apapun tanpa harus melupakan jati dirinya.

Makna ketiga dilihat dari sudut mistis. Masyarakat zaman dulu percaya bahwa pohon bambu sebagai tempat yang paling digemari segala jenis setan untuk berkumbul. “Orang-orang Kobam seperti kesetanan, kesurupan sehingga khilaf karena mau tekun di dunia penerbitan buku tema budaya dan humaniora.” ujar Nana.

Selain menerbitkan buku-buku tema budaya dan humaniora yang berada jauh dari alam pikiran masyarakat dan pemerintah Indonesia, Kobam juga memiliki berbagai kegiatan seperti diskusi buku, bazaar buku sejarah, pemutaran film hingga wisata sejarah dengan tour guide yang ahli di bidangnya. Kegiatan tersebut sebagai wujud kepedulian Kobam terhadap sejarah. Komunitas Bambu menyesuaikan dirinya dengan berbagai tantangan serta kondisi untuk berupaya bertahan dalam hal sejarah dan mengalir di kalangan umum.

Editor: Sepdian Anindyajati

Foto: diunduh dari website komunitasbambu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s