World Statesman Award SBY Diterima atau Ditolak?

Standard
Ki-Ka: Edo Kondologit, K. Hidayat, Alissa Wahid, BN Naipospos, Hendardi, Todung Lubis, Jalaludin Rakhmat, Adnan Buyung Nasution, Musdah Mulia

Ki-Ka: Edo Kondologit, K. Hidayat, Alissa Wahid, BN Naipospos, Hendardi, Todung Lubis, Jalaludin Rakhmat, Adnan Buyung Nasution, Musdah Mulia

Oleh: Josephine Inggri

Keberagaman Indonesia adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri. Semboyan Bhineka Tunggal Ika merupakan potret nyata bangsa Indonesia yang terdiri dari suku, agama, dan bahasa. Indonesia memiliki tradisi panjang dalam menghormati perbedaan, toleransi, dan kebersamaan. Disisi lain, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono akan diberikan penghargaan World Statesman dari New York. Sudah layakkah presiden kita menerima penghargaan seperti itu?

Distrik Online, Jakarta – Maraknya pemberitaan mengenai penghargaan terhadap SBY membuat sejumlah aktivis dan aliansi berkumpul di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta pada Kamis (23/5). Acara ini diselenggarakan oleh Setara Institute untuk membahas penghargaan yang tidak menghargai korban pelanggaran kebebasan beragama. Setara Institute mengaku terkejut dan prihatin mengetahui rencana appeal of conscience foundation, sebuah lembaga yang memiliki reputasi tinggi dalam membangun kesepahaman Internasional mengenai perdamaian dan toleransi memberikan World Statesman Award kepada Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono.

Penghargaan ini tampaknya dilandasi ketidaktahuan terhadap kondisi di Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir ini marak dengan kasus diskriminasi dan kekerasan atas nama agama terhadap kelompok minoritas seperti Ahmadiyah, Kristiani, Syiah, Baha’i, dan penganut kepercayaan. Sangat disayangkan appeal of conscience foundation yang mengedepankan slogan “A crime committed in the name of religion is the greatest crime against religion” mengabaikan kenyataan yang ada.

Hendardi selaku ketua Setara Institute mengkhawatirkan dengan penghargaan ini justru memberikan justifikasi bagi kelompok ekstrim dan intoleran untuk terus melancarkan aksinya dan dilain pihak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menggunakan penghargaan ini untuk berkelit menghindari tanggung jawab konstitusionalnya dengan beragumen bahwa sebuah lembaga internasional memberikan penghargaan kepadanya sebagai bukti keberhasilan membangun toleransi dan kebebasan beragama di Indonesia.

Pembiaran dan minimnya langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono untuk mencegah diskriminasi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas inilah yang membuat mengapa kasus-kasus pelanggaran kebebasan beragama di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir ini. Menurut data dari Setara Institute mencatat jumlah kasus pelanggaran kebebasan beragama yang terjadi di Indonesia pada tahun 2007 sebanyak 135, tahun 2008 sebanyak 265, tahun 2009 sebanyak 200, tahun 2010 sebanyak 216, tahun 2011 sebanyak 244, dan tahun 2012 sebanyak 264.

Fakta lain menggambarkan bahwa sejumlah peristiwa pelanggaran kebebasan beragama/berkeyakinan bahkan masih berlangsung hingga saat ini. Semua peristiwa yang terjadi dianggap oleh pemerintah Indonesia hanya sebagai percikan kecil belaka. Pemerintah Indonesia selalu menyangkal terhadap sejumlah kasus diskriminasi dan kekerasan yang menimpa kelompok minoritas. “Disinformasi, lalu diskriminasi, lalu kriminalisasi dan genosida merupakan tahapan penindasan terhadap kelompok minoritas,” ujar Jalaludin Rakhmat.

Setara Institute bekerja sama dengan Change.org serta pihak lainnya mendesak Appeal Of Conscience untuk meninjau kembali dan membatalkan pemberian world statesman award kepada Susilo Bambang Yudhoyono supaya tidak ada kepentingan tertentu dibalik pemberian penghargaan ini.

Editor: Siti Hardiyanti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s